Rabu, 06 Mei 2020

5 Wabah Penyakit Menular Mematikan dalam Sejarah Islam

Dikutip dari Laduni.id, Abu al-Hasan al-Mada’ini mengatakan bahwa wabah penyakit Tha’un yang masyhur dan paling besar terjadi dalam sejarah Islam ada lima:

1. Tha’un Syirawaih, yang terjadi pada zaman baginda Nabi SAW yakni pada tahun keenam hijriah.

2. Tha’un ‘Amwas, terjadi pada masa kholifah Umar bin al-Khaththab ra, wabah tersebut melanda hingga negeri Syam hingga mengakibatkan 25.000 orang meninggal dunia.

3. Tha’un yang terjadi pada zaman Ibnu Zubair yaitu pada bulan Syawwal tahun 69 Hijriah yang menyebabkan kematian selama tiga hari. Dalam setiap harinya ada 70.000 orang meninggal.

4. Tha’un Fatayat pada Syawwal tahun 87 H. Yang terkena wabah tersebut mayoritas para gadis, hingga disebut fatayat.

5. Tha’un yg terjadi pada pada tahun 131 H pada bulan Rajab, dan semakin parah pada bulan Ramadhan, dan terhitung di perkampungan al-Mirbad dalam setiap harinya terdapat seribu jenazah, kemudian mereda pada bulan Syawalnya.
Sementara Tha’un di Kufah terjadi pada tahun 50, di mana al-Mughirah bin Syu’bah meninggal dunia.
terkait wabah tho'un ini, Baginda Nabi Saw bersabda:

الطاعون آية الرجز ابتلى الله عز وجل به ناسا من عباده فإذا سمعتم به فلا تدخلوا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تفروا منه.

"Wabah penyakit Tho’un adalah sebuah tanda peringatan dari Allah Swt untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga bila mana kalian mendengar berita tentang adanya wabah penyakit tersebut disebuah daerah, maka jangan sekali-kali kalian memasukinya, dan bila wabah penyakit tersebut telah terjadi pada suatu daerah dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya".
Ulama asal Riau, Ustadz Abdul Somad mengatakan, wabah penyakit yang melanda dunia tidak hanya terjadi kali ini.
"Jauh sebelum itu, sudah ada wabah penyakit menular yang melanda beberapa negara Muslim," kata Ustaz Abdul Somad dalam video singkatnya di akun Instagram miliknya @ustadzabdulsomad_official.

Doktor Ilmu Hadits lulusan Sudan itu lalu menukil kitab karya Imam Adz Dzahabi. "Pernah pada suatu masa di Mesir dilanda masa paceklik dan wabah yang berkepanjangan. Wabah ini sampai ke Cordoba (Sapnyol), Libya, Aljazair, dan Tunisia. Belum pernah terjadi kemarau panjang paceklik sedahsyat itu sampai masjid-masjid ditutup. Tidak ada orang sholat, sama seperti sekarang. Tahun itu disebut tahun kelaparan wabah penyakit terdahsyat," papar Ustaz Abdul Somad.

Menyikapi kejadian itu, ulama kelahiran Asahan Sumatera Utara itu mengajak umat Islam untuk mengimani takdir. "Jadi, kita jangan merasa sedih. Ini takdir kita. Makanya kita harus mengimani takdir," ujarnya.

Kisah Umar dan Wabah Penyakit Tho'un di Syam


Wabah penyakit merupakan hal yang sangat ditakuti manusia sebagaimana virus Corona yang menyebabkan kematian di negeri China. Wabah virus ini kini menjadi perhatian dunia termasuk Indonesia.

Di zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat juga pernah mengalami musibah wabah penyakit. Seperti yang terjadi di Kota Madinah tahun ke-6 Hijriyah, kaum muslim Madinah terkena wabah penyakit tho'un (sejenis wabah penyakit kolera). Namun, Allah Ta'ala menjaga Madinah berkat doa Rasulullah SAW. Pertistiwa wabah tha'un di Madinah hanya terjadi sekali saja.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu (RA), wabah penyakit tho'un juga pernah menjangkiti negeri Syam. Dalam peritiwa itu sekitar 20.000 orang lebih meninggal dunia. Kisah ini diceritakan dalam Hadis Shahih Muslim.

Wabah penyakit Tha'un juga pernah terjadi pada masa Ibnu Zubair, yaitu pada bulan Syawal tahun 69 Hijriyah. Dalam kejadian itu ribuan orang meninggal dunia.

Dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah, "Suatu ketika Umar bin Khatthab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka 'Abdurrahman bin 'Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) telah bersabda: 'Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.' Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah; bahwa Umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar Hadits Abdurrahman bin Auf". (Shahih Muslim No. 4115)

Sikap Umar Menghadapi Wabah Penyakit Tho'un
Ketika Umar pergi ke Syam, setelah sampai di Saragh, pimpinan tentara datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu "Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada 'Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Ibnu Abbas berkata; 'Umar berkata; 'Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang Muhajirin! '

Maka kupanggil mereka, lalu 'Umar bermusyawarah dengan mereka. Kata 'Umar; 'Wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Bagaimana pendapat kalian? ' Mereka berbeda pendapat. Sebagian mengatakan kepada 'Umar; 'Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.'

Sebagian lain mengatakan; 'Anda datang membawa rombongan besar yang di sana terdapat para sahabat Rasulullah SAW. Kami tidak sependapat jika Anda menghadapkan mereka kepada wabah penyakit ini.' Umar berkata: 'Pergilah kalian dari sini! ' Kemudian 'Umar berkata lagi: 'Panggil ke sini orang-orang Anshar! '

Maka aku memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Ternyata kebijaksanaan mereka sama dengan orang-orang Muhajirin. Mereka berbeda pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Maka kata 'Umar; 'Pergilah kalian dari sini! ' Kata Umar selanjutnya; 'Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah!' Maka aku (Ibnu Abbas) memanggil mereka.

Ternyata mereka semuanya sependapat, tidak ada perbedaan. Kata mereka; 'Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang saja kembali bersama rombongan Anda dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini. Lalu Umar menyerukan kepada rombongannya "Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian!"

Kemudian Abu 'Ubaidah bin Jarrah bertanya; "Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?" Umar menjawab: 'Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu 'Ubaidah?

Agaknya Umar tidak mau berdebat dengannya. Beliau menjawab: "Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus.Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?"

Di tengah perbincngan Umar dengan Abu 'Ubaidah tiba-tiba datang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin 'Auf yang belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata: "Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri."

Mendengar itu, akhirya Umar mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu beliau pergi. Di dalam Hadis Ma'mar ada tambahan Umar berkata: "Bukankah jika kamu mengembalakan unta di tempat yang tandus dengan meninggalkan tempat yang subur berarti kamu telah membuatnya lemah?

Ketika itu Abu Ubaidah menjawab: "Ya." Kemudian Umar berkata: maka berangkatlah! Maka Abu Ubaidah berangkat hingga sampai di Madinah, lalu dia berkata: "Insya Allah ini adalah tempat tinggal." (Shahih Muslim No. 4114)

Penjelasan Nabi Soal Wabah Tha'un
Dari 'Amir bin Sa'ad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia ('Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid: "Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah SAW tentang masalah tha'un (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?".

Maka Usamah berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Tha'un adalah sejenis kotoran (siksa) yang ditimpakan kepada satu golongan dari Bani Isra'il atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya". (Shahih Al-Bukhari No. 3214)

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda: "Tha'un (wabah kolera) adalah semacam azab (siksaan) yang diturunkan Allah kepada Bani Israil atau kepada umat yang sebelum kamu.

Perintah Nabi untuk Menutup Bejana
Dari Jabir bin 'Abdullah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup."

Dan telah menceritakan kepada kami Nashr bin 'Ali Al Jahdlami; Telah menceritakan kepadaku Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa'd dengan Hadis dan sanad yang serupa, hanya saja dia berkata dengan kalimat "Karena di suatu hari pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit". Dia juga menambahkan pada akhir Haditsnya; Al laits berkata: "Orang-orang ajam (selain orang arab) di antara kami merasa takut pada hal itu sejak bulan pertama.' (Shahih Muslim No. 3758)

Wabah Tha'un merupakan penyakit yang mematikan pada masa Rasulullah dan para sahabat. Namun, Nabi memberi gabar gembira bagi mereka yang pernah terkena penyakit ini. Beliau bersabda: "Bahwa ada suatu azab yang Allah mengutusnya (untuk) menimpa kepada seseorang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidaklah bagi seseorang yang tertimpa tha'un kemudian ia berdiam diri di wilayahnya itu dengan sabar dan ia menyadari bahwa tha'un itu tidak akan menimpa kecuali telah ditetapkan Allah, kecuali ia memperoleh pahala bagaikan orang mati syahid. (HR. Al-Bukhari dari 'Aisyah RA).
 

Senin, 04 Mei 2020

Kisah Pengikut Nabi Selamat dari Pandemi Penyakit yang Tewaskan 20 Ribu Orang

Ilustrasi di masjid

Belakangan, beredar kisah tentang pengikut dan sahabat Rasulullah SAW di grup WhatsApp. Kisah ini tentang wabah yang pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Khattab dalam buku tentang Khalifah Umar bin Khattab karya Syaikh Ali Ash Shalabi, dan dikaitkan dengan pandemi corona yang merebak akhir-akhir ini.


Diceritakan Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti didaerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.


Kala itu, dikisahkan bahwa Umar memutuskan pulang ke Madinah dan tidak melanjutkan perjalanan. Keputusan ini sempat disangsikan Abu Ubaidah, seorang yang dikagumi Umar dan sang Gubernur Syam. Menurutnya, Umar tak seharusnya kembali dan mempertanyakan kenapa lari dari takdir Allah SWT.

Keputusan Umar untuk tidak melanjutkan perjalanan kemudian diperkuat dengan hadits yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir. Berikut haditsnya:

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏‏

Artinya: "Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya." (HR Bukhori).

Total sekitar 20 ribu dan hampir separuh penduduk Syam wafat karena wabah itu. Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash memimpin Syam

Amr bin Ash berkata:

"Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung."

Mereka pun berpencar dan menempati gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.
Dari kisah itu, penulis pesan di grup WA ini menitipkan pesan, Bun. Pesan tersebut berupa:

1. Karantina

Karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW di atas, maka itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal.

2. Bersabar

عن عائشة أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ
التخريج : أخرجه البخاري (3474)، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (7527)، وأحمد (26139)

Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin.

Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di kampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid. (HR. Bukhari dan Ahmad)

3. Berbaik sangka dan berikhtiarlah

Rasulullah SAW bersabda:

قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ لم يُنزِلْ داءً إلَّا وقد أنزَلَ معه دَواءً، جَهِلَه منكم مَن جَهِلَه، وعَلِمَه منكم مَن عَلِمَه.
التخريج : أخرجه النسائي في ((السنن الكبرى)) (6863) المرفوع منه أوله في أثناء حديث، وابن ماجه (3438) المرفوع منه مختصراً، وأحمد (4267) واللفظ له

Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya. (HR. Bukhari)

4. Banyak berdoalah

مَن قالَ بسمِ اللَّهِ الَّذي لا يضرُّ معَ اسمِهِ شيءٌ ، في الأرضِ ، ولا في السَّماءِ ، وَهوَ السَّميعُ العليمُ ، ثلاثَ مرَّاتٍ ، لم تُصبهُ فَجأةُ بلاءٍ ، حتَّى يُصْبِحَ ، ومَن قالَها حينَ يصبحُ ثلاثُ مرَّاتٍ ، لم تُصبهُ فجأةُ بلاءٍ حتَّى يُمْسيَ ، قالَ: فأصابَ أبانَ بنَ عثمانَ ، الفالجُ ، فجعلَ الرَّجلُ الَّذي سمعَ منهُ الحديثَ ينظرُ إليهِ ، فقالَ لَهُ: ما لَكَ تنظرُ إليَّ ؟ فواللَّهِ ما كذَبتُ على عُثمانَ ولا كذَبَ عثمانُ على النَّبيِّ صلَّى اللَّه عليهِ وعلى آلِهِ وسلَّمَ ولَكِنَّ اليومَ الَّذي أصابَني فيهِ ما أصابَني غَضِبْتُ فنَسيتُ أن أقولَها

التخريج : أخرجه أبو داود (5088) واللفظ له، والترمذي (3388)، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (9843)، وابن ماجه (3869)، وأحمد (446)

Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim

(Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui)

Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x di pagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yang memudharatkannya.

Terakhir adalah melakukan solusi dari Amr bin Ash untuk berpencar, yaitu dengan menjaga jarak dari keramaian dan menahan diri untuk tetap di rumah.

Menanggapi kisah dan info yang beredar di grup WhatsApp tersebut, Ustaz dr.Yusuf Mansur setuju dengan keempat poin yang diutarakan di atas. Menurutnya saat dihubungi HaiBunda, Selasa (17/3/2020), kisah wabah yang menjangkit 20 ribu orang itu ada dalam buku sirah, kitab sirah, yang merupakan sejarah.

Sedangkan, menurut Pengurus Nahdatul Ulama Kecamatan Junrejo Kota Batu, Malang Ustaz Zarofi, dia menganggap kisah itu sebagai suatu sikap yang diambil Nabi dalam menghadapi musibah atau wabah penyakit. Artinya yang di luar tidak boleh masuk agar tidak tertular, sedangkan yang di dalam tidak boleh keluar agar tidak menularkan.

Allah SWT berfirman kalau tidak akan menurunkan sebuah musibah ataupun bencana selagi Nabi Muhammad SAW masih ada di tengah-tengah kehidupan umat.

"Beliau kan sudah wafat 1400 tahun yang lalu, tapi ajarannya kan masih hidup, gaung dan tuntunan masih bisa dipakai. Ini lah penyebabnya jika umat Islam sendiri tidak melaksanakan sunah dan tinggalan-tinggalan Nabi Muhammad SAW,"


Dialog antara Seorang Waliyullah dan Segerombolan Wabah Thaun

Suatu saat datang segerombolan jundullah (pasukan, tentara Allah) dari wabah penyakit ganas, yakni wabah thaun yang hendak masuk ke Kota Damaskus, Syiria (Suriah). Di tengah jalan, mereka bertemu dengan waliyullah. Maka, terjadilah percakapan singkat antara keduanya.
“Mau ke mana kalian?” tanya wali tersebut.
“Kami diperintahkan oleh Allah SWT untuk memasuki Kota Damaskus,” jawab wabah thaun.
“Berapa lama kamu akan tinggal di sana? Dan, kira-kira akan makan berapa banyak korban?” tanya sang wali itu kembali.
“Dua tahun lamanya. Dan, menelan sekitar seribu korban yang akan meninggal dunia,” jawab segerombolan thaun dengan jelasnya.
Selang dua tahun kemudian, sang wali bertemu kembali dengan segerombolan wabah penyakit ganas tersebut. Seraya berkata:
“Mengapa dalam waktu dua tahun, kalian memakan korban begitu banyak, hingga 50.000 orang? Bukankah kalian dulu janji, korbannya hanya seribu orang yang meninggal dunia?
Allahu Akbar. Subhanallah. Sangat mengagumkan dialog tersebut. Lantas, apa jawaban dari sekawanan penyakit ganas tersebut.
“Wahai waliyullah, kami memang diperintah Allah untuk merenggut seribu korban saja. Namun, sisanya yang 49.000 korban, mereka meninggal karena panik. Sebab, khawatir, syadidah (ketakutan yang berlebihan) yang meliputi benak dan pikiran mereka”.
Sahabat, dari percakapaan antara segerombolan wabah thaun dan waliyullah di atas, dapat disimpulkan bahwa kepanikan dan ketakutan yang berlebihan, jutru sangat berbahya. Melebihi bahaya dari virus yang ganas.
Karena, kepanikan adalah separuh dari penyakit. Dan, ketenangan adalah separuh dari obat. Sementara, kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan.
Dikutip dari Kitab Hilyatul Auliya, karya Imam Abu Nu’aim al Ashfani.

Seperti Virus Corona, Wabah Terjadi Juga di Zaman Nabi Begini Ceritanya

Wabah penyakit terjadi juga di zaman Rasulullah SAW meski bukan virus corona. Wabah tersebut salah satunya kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Nabi memerintahkan tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra atau leprosy.

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ‏


Artinya: "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR Bukhori)
Hadist ini dinilai hasan dan sesuai bakteri penyebab kusta yang ternyata mudah menular antar manusia. Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Hadist ini mirip metode karantina yang kini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit. Selain kusta, Nabi Muhammad SAW juga pernah menghadapi wabah di masa hijrah ke Madinah. Saat itu situasi Madinah dikatakan sangat buruk dengan air yang keruh dan penuh wabah penyakit

Menghadapi situasi tersebut, Nabi Muhammad SAW meminta pengikutnya untuk sabar sambil berharap pertolongan dari Allah SWT. Seperti diceritakan Aisyah, mereka yang bersabar dijanjikan syahid.
 
Dalam hadist juga disebutkan janji surga dan pahala bagi yang bersabar saat menghadapi wabah penyakit.

‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhori)

Selain di masa Rasulullah, kisah wabah penyakit juga ada di masa khalifah Umar bin Khattab. Dalam hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam saat kabar wabah penyakit diterimanya dalam perjalanan.
Hadist yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan.

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏‏

Artinya: Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori).
Dalam hadist yang juga diceritakan Abdullah bin Abbas dan diriwayatkan Imam Malik bin Anas, keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar.
Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.

Wabah penyakit sejatinya tidak pernah diharapkan muncul hingga mengakibatkan kekhawatiran. Namun selalu ada alasan yang mengakibatkan wabah penyakit muncul dengan dampak yang tidak bisa diperkirakan.
Menghadapi kondisi ini, ada baiknya mengamalkan doa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berbagai hadist.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

Arab latin: Allahumma inni a'udhu bika minal-barasi, wal- jununi, wal-judhami, wa min sayyi'il-asqami'
Artinya: "Ya Allah, aku mencari perlindungan kepadamu dari kusta, kegilaan, kaki gajah, dan penyakit jahat. (HR Abu Daud)
Hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik tersebut mendapat kategori shahih. Selain berdoa dan melaksanakan ibadah lain, tentu upaya pencegahan lain harus dilakukan menghadapi wabah penyakit.
Sesuai saran pemerintah, untuk mencegah infeksi virus corona sebaiknya selalu menggunakan masker saat beraktivitas. Selain itu jaga kebersihan dengan rajin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Langkah selanjutnya adalah segera ke dokter bila terjadi penurunan fungsi tubuh, terutama jika baru pulang dari Wuhan atau China.

Kisah Waliyullah Yang Tidak Jadi Kena Wabah Penyakit Karena Rajin Sedekah



Suatu waktu di masa yang lampau, ada seorang Wali bertemu dengan wabah yang diutus Allah Ta'ala untuk masuk ke suatu daerah mengambil beberapa ribu orang, wali tadi bertanya, apakah dia termasuk di antara sekian ribu yang terbunuh oleh wabah itu? Oleh wabah tadi dijawab bahwa wali tadi bakal masuk sebagai salah satu korban.

Karena mengetahui bahwa dirinya termasuk di antara korban wabah tadi, akhirnya wali tadi memanfaatkan dan menikmati waktu hidup yang tersisa dengan memperbanyak ibadah dan rajin sedekah. Semua harta yang dia punya dibuat untuk beli makanan dan diberikan pada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.

Selang beberapa waktu, wabah merajalela, ribuan orang meninggal akibat wabah tadi. Dan setelah wabah tadi mereda, bahkan menjelang selesai, wali tadi tetap sehat wal afiat. Bahkan sampai wabah selesai.

Ketika wabah selesai, Wali tadi heran, kenapa dirinya tidak meninggal, dan ketika bertemu wabah tadi sekembalinya dari melaksanakan tugas yang diberikan Allah, wali tadi bertanya kepada wabah tadi, kenapa dia tidak mati padahal termasuk dalam daftar orang yang akan mati karena wabah. Oleh wabah tadi dijawab: "Seharusnya kamu termasuk, tetapi karena kamu rajin shodaqoh akhir-akhir kemarin itu, akhirnya kamu selamat dan tidak jadi masuk dalam bagian orang yang meninggal karena wabahku"...

Dialog Wali Allah Dengan Gerombolan Wabah Thoun

Suatu saat datang segerombolan jundullah dari wabah penyakit ganas yakni Wabah Tho'un yang hendak masuk ke kota Damasykus Syiria.
 
Di tengah jalan mereka bertemu dengan salah seorang waliyullah. 
Maka terjadilah percakapan singkat antara keduanya.
 
"Mau kemana Kalian....?" 
Tanya wali tersebut.......!!!!! 
 
"Kami diperintah oleh Allah Swt untuk memasuki kota Damasykus". 
Jawabnya.......!!!! 
 
"Seberapa Lama kamu akan tinggal di sana..? Dan kira- kira akan makan seberapa banyak Korban?. 
Tanya si-wali itu kembali.
 
"Dua tahun lamanya dan menelan sekitar seribu korban meninggal dunia".
Jawabnya dengan jelas.
 
Selang dua tahun kemudian, 
Sang Wali tersebut bertemu kembali dengan segerombolan wabah penyakit ganas tersebut. Seraya berkata :
 
"Mengapa dalam waktu dua tahun kalian memakan korban begitu banyak hingga lima puluh ribu orang....? 
Bukankah kalian dulu janji korbanya hanya seribu orang meninggal dunia....? "
Subanallah sangat mengagumkan, 
apa jawaban dari sekawanan wabah penyakit ganas tersebut....!!!!  
 
"Kami memang diperitah oleh Allah Swt untuk merenggut seribu korban saja, 
Namun sisanya yang empat puluh sembilan ribu korban, 
Mereka meninggal dunia karena mereka panik atau  sebab khawathir Syadidah (ketakutan yang berlebihan) yang meliputi benak dan pikiran  mereka."
 
Jadi kepanikan dan ketakutan yang berlebihan justru sangat berbahaya melebihi bahaya dari virus yang ganas, 
Dimana ia akan melahirkan takdir baru yang belum disetting dalam qodho' Allah Swt Yang Mu'allaq.
 
Karena kepanikan adalah separuh daripada penyakit, 
Ketenangan adalah separuh dari obat, 
Dan Kesabaran adalah permulaan kesembuhan.
 
Dikutip dari kitab Hilyatul auliya, 
karya Imam Abu Nu'aim al Ashfani.
 
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِي
وَتَقْضِي لِي بِهَا حَاجَتِيْ فِي الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ 
وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kisah Sedih Ulama yang Terkena Wabah Usai Menuliskan Kitab soal Thaun



https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 29 614 2190903 kisah-sedih-ulama-yang-terkena-wabah-usai-menuliskan-kitab-soal-thaun-JFGI49HK1K.jpg 

Umar bin Mudzaffar atau yang dikenal dengan Ibnu Al-Wardi, sejarawan besar, penyair, ahli fikih, merupakan deretan ulama yang meninggal karena thaun atau wabah.
Menariknya, sebelum meninggal, Ibnu Al-Wardi sempat menulis kitab mengenai wabah melalui penggambaran yang cukup detil. Jadi, Ibnu al-Wardi menulis tentang satu penyakit, dan ia meninggal oleh penyakit yang ia tulis sendiri. 

berdoa
Lalu 22 tahun setelah meninggalnya Ibnu Al-Wardi, hal yang sama terjadi pada Taj al-Din al-Subki, ia terjangkit wabah setelah menulis kitab tentang wabah, bertajuk Juz’un min al-Thâ’ûn.

Wabah ini memang tak pandang bulu. Ia menjangkit seseorang dalam keadaan apa saja. Entah pejabat, rakyat biasa, bahkan ulama bisa saja terjangkit wabah ini.
Seorang ulama agung, Murtadla al-Zabidi, yang dikenal syârih al-ihyâ (pensyarah Ihyâ'), malah terjangkit wabah paska melaksanakan Salat Jumat, dan meninggal dua hari kemudian.
Ibnu Al-Wardi sendiri mendokumentasikan wabah di Damaskus dalam kitabnya Risâlat al-Nabâ’ an Al-Wabâ’. Menurutnya, wabah yang melanda Damaskus, bagai mesin pembunuh karena menghilangkan nyawa 1.000 orang per hari.
Seperti dilansir dari website Laduni.id, disebut dengan redaksi “aqalla al-katsrah”, menyusutkan populasi manusia.
Wabah ketika itu menjadi pandemi yang menyebar dari Palestina sampai ujung Utara Syria, dan melalui pertengahan Kota Syria, wabah tersebut terus berjalan sampai ke Turki.
Al-Shafadi, sejarawan yang juga meninggal terjangkit wabah ini menjelaskan, "Wabah ini sampai mengosongkan tanah Syam dari penduduknya."
Menurut Ibnu Al-Wardi, kala itu, wabah menjadi mesin pembunuh menakutkan hingga di mana-mana terdapat barisan manusia tergeletak memuncratkan darah dari mulut mereka.
“Di antara ketetapan Allah, wabah ini berjalan dari rumah ke rumah. Jika seorang mengeluarkan darah dari mulut, maka nyawanya sudah pasti terenggut. Sedang sisanya tinggal menunggu jatah mati, setelah berlalu dua atau tiga hari.”  
Ia bersyair,
Aku berdoa pada Allah
Bagaimana cara menolak Tha’un yang datang seketika
Sebab siapa saja yang sudah merasa menelan darah
Sesungguhnya ia sudah merasa pasrah (ahassa bi al-‘adam)
Demikian tidak terkontrol penyebarannya, akhirnya masyarakat ramai belajar pengobatan secara mandiri dari buku-buku kedokteran. Berbagai metode untuk menyembuhkan wabah ini dipelajari.
Mereka memakan dedaunan kering dan makanan asam untuk obat. Di waktu lain, ramai orang mengkonsumsi cuka serta bawang untuk sterilisasi.
Ibnu Al-Wardi mengatakan, “Jika kalian sudah melihat banyak keranda dan para pemanggulnya, niscaya kalian akan menjauh seketika dari mereka.”
Penyebarannya wabah ini sangat cepat, dan tidak pandang bulu. Hingga siapapun yang melihat mayat, ia akan ketakutan terjangkit wabah yang sama. Menurutnya, arus keuangan menumpuk di pemanggul mayat karena demikian banyak orang meninggal setiap hari.
Selama 15 tahun, Damaskus diserang wabah, sampai orang orang bersimpuh pasrah tak tahu apa yang harus diperbuat.
Ibnu Al-Wardi menggambarkan, sebagian mereka menulis wasiat, ada pula yang mendadak berdamai dengan musuh lama, sebagian lagi ada yang berinfak tanpa putus, ada yang memerdekakan budak budaknya, bahkan para pedagang menambah kadar timbangan. Sebagian mereka merasa hidup hanya menunggu hitungan hari.
Pemandangan memilukan ini membuat Ibnu al-Wardi geram. Ia geram karena dimana mana orang berbicara ketakutan, penyakit, kesedihan, dan keputusasaan. Akhirnya Ibnu al-Wardi menantang Tha’un dalam dua baitnya:
Aku tidak takut padamu, thaun (wabah),
Tidak seperti selainku
Bagiku, hasilnya adalah dua kebaikan
Jika aku mati, aku beristirahat dari musuhku (wabah)
Jika aku hidup, berarti telinga dan mataku sudah sembuh (hilangnya wabah)
Belum genap dua hari, wabah tersebut menjangkiti dirinya. Belum genap hitungan 48 jam pula, wabah itu sudah merenggut nyawanya. Ibnu al-Wardi meninggal pada tahun 749 H. Tahun yang sama saat ia tiba tiba memasukkan pembahasan wabah dalam kitab târikh-nya.
"Pada bulan Rajab, wabah sampai ke tanah Aleppo, Syria. Semoga Allah menjaga kita dari wabah tersebut. Wabah ini, menurut berita yang sampai padaku, telah menjangkit selama 15 tahun. Dan aku membuat risalah kecil untuk mendokumentasikannya, bertajuk al-Nabâ' an al-Wabâ."

Ketika Para Sahabat Nabi Tertimpa Wabah Penyakit

Dari Aisyah rhadiyallahu anha, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, kota itu adalah sarang wabah penyakit demam. Banyak dari sahabat Rasulullah SAW yang tertimpa wabah tersebut. Namun Allah SWT menghindarkan Rasul-Nya dari penyakit itu. Ketika Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal di dalam satu rumah, mereka semua terserang penyakit demam. Maka aku pun datang untuk menjenguk mereka (peristiwa ini terjadi sebelum perintah menggunakan jilbab). Hanya Allah yang tahu tentang beratnya sakit yang mereka alami. Aku pun datang dan menemui Abu Bakar dan menyapanya, ‘Bagaimana kabarmu, wahai ayahku?’.
“Lalu Abu Bakar pun menjawab: ‘setiap orang boleh bersenang-senang bersama keluarganya di waktu pagi, padahal kematian itu lebih dekat dengannya daripada tali sandalnya,’. Demi Allah, Abu Bakar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Kemudian aku datang menemui Amir bin Fuhairah dan bertanya kepadanya, 'Bagaimana keadaanmu?'.
“Amir pun menjawab ‘Sungguh aku telah merasakan kematian sebelum aku mengalaminya. Sesungguhnya seorang pengecut selalu berteriak dari atas. Setiap orang pasti berusaha sekuat tenaga, seperti sapi yang melindungi kulitnya dengan tanduknya,’. Demi Allah, Amir tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Sedangkan Bilal apabila terserang demam itu, ia berbaring di halaman rumah sambil berseru,”.
“Bilal berkata, ‘Duhai, bisakah aku bermalam semalam saja di Fakh (nama tempat di luar kota Makkah)? Sementara di kanan dan kiriku terdapat idzkir dan jalil (idzkir dan jalil adalah nama sebuah tanaman yang harum baunya). Duhai, bisakah aku singgah di mata air Majannah (nama sebuah pasar di era Jahiliyah), dan bisakah aku menatap sekali lagi Bukit Syaamah dan Thafil (nama dua gunung di Makkah),’. Kemudian aku menceritakan apa yang aku saksikan kepada Rasulullah SAW,”.
“Kukatakan kepada beliau (Rasulullah), ‘Mereka tidak menyadari apa yang mereka ucapkan karena parahnya demam yang menyerang mereka,’. Mendengar itu, Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Berkahilah mud dan sha-nya (barang-barang yang ditimbang dengan mud dan sha. Satu mud sama dengan dua rithal bagi penduduk Irak. Dan sepertiga rithal bagi penduduk Hijaz. Sedangkan satu sha sama dengan empat mud bagi penduduk hijaz), serta pindahkanlah wabah yang menimpanya ke Mahya’ah, yaitu Juhfah yang merupakan miqat penduduk Syam.”

6 Jenis Wabah Penyakit yang Membuat Kakbah Terpaksa Ditutup

WABAH penyakit yang diakibatkan virus korona COVID-19 berimbas ke pelaksanaan sejumlah rangkaian ibadah di Makkah. Contohnya untuk sementara dan sampai sampai sekarang, Kakbah tertutup bagi jamaah umrah yang datang dari negara-negara yang suspect korona. 

Lalu sejak Kamis 5 Maret 2020 malam hingga Jumat paginya Kakbah sempat ditutup, dan baru dibuka lagi pada satu jam sebelum pelaksanaan Salat Jumat.
Ini bukan kejadian pertama Kakbah ditutup akibat wabah penyakit. Sebab sepanjang sejarah, sedikitnya sudah enam kali wilayah suci ini ditutup karena wabah. 

Dikutip dari laman laman Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) pada Senin (9/3/2020), ini enam wabah penyakit yang pernah membuat petugas Masjidil Haram terpaksa menutup Kakbah.

1.Wabah Thaun
Terjadi sekitar tahun 1814, di mana ada sekitar 8.000 korban meninggal dunia akibat wabah tersebut di wilayah hijaz.
2.Wabah Hindi 

Pada musim haji 1831 terjadi wabah penyakit yang dipercaya berasal dari India sehingga disebut wabah Hindi. Sekitar 3/4 jamaah haji meninggal dunia.
3.Wabah Kolera 

Pada 1892 terjadi wabah kolera, itu bertepatan dengan musim haji di mana mayat-mayat menumpuk karena korban bertambah setiap hari. Wabah menyebar hingga ke Arafah dan puncaknya di Mina.
4. Wabah Tifus 

Wabah tifus melanda pada 1895, pandemi tersebut mirip dengan demam tifoid atau disentri. Virus yang mengakibatkan tifus itu diduga bersumber dari kafilah yang datang dari Madinah.
 
5.Wabah Kolera
Pada 1920-an Pemerintah Arab Saudi pernah melarang dan menutup ibadah haji, itu juga karena wabah Kolera. Wabah penyakit ini menyebar dari Eropa hingga semenanjung Arab.
Ketika itu, kolera masih tergolong penyakit mematikan karena belum bisa ditangani seperti sekarang. Akibatnya perlu dilakukan antisipasi menutup Kota Suci. 

6. Wabah Virus Korona COVID-19
Pada 5 Maret 2020 malam hingga 6 Februari 2020 pagi Kakbah ditutup karena petugas melakukan pembersihan atau sterilisasi dari wanah virus korona COVID-2019. Itu dilakukan setelah dua warga Arab Saudi dinyatakan positif terjangkit virus tersebut. 

Sementara itu Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Kota Madinah itu dipagari oleh para malaikat, di setiap jalan masuknya terdapat dua malaikat yang menjaganya. Tidak masuk di dalamnya wabah tha’un dan tidak juga Dajjal.” (HR. Bukhari dan Imam

Percakapan Waliyullah dan Wabah


 

Dari Kitab Hilyatul Aulia karya Abu Nu’aim Ashfani. Dalam kitab tersebut diceritkan, suatu masa, muncul segerombolan makhluk Allah berupa wabah penyakit ganas yang hendak memasuki Kota Damaskus.

Dalam perjalanan menuju Kota Damaskus, mereka bertemu dengan salah satu Wali Allah. Kemudian, terjadilah percakapan.
Inilah percakapan antara Wali Allah dan wabah penyakit.
Waliyullah bertanya, “Mau ke mana kalian?”
Wabah menjawab, “Kami diperintah oleh Allah untuk memasuki Damaskus.”

Waliyullah bertanya lagi, “Berapa lama, dan berapa banyaknya korban?

” Wabah itu pun menjawab, dua tahun dengan seribu korban meninggal.

Dua tahun kemudian, jumlah korban meninggal ternyata mencapai 50 ribu orang.

Ketika Sang Wali bertemu kembali dengan wabah penyakit ini, ia pun bertanya,

“Kenapa dalam dua tahun kalian memakan korban 50 ribu orang?
Bukannya kalian janji hanya seribu orang meninggal?

Wabah itu pun menjawab, “Kami memang diperintah Allah untuk merenggut seribu korban. Empat puluh sembilan ribu korban lainnya meninggal dikarenakan panik.

Oleh sebah itu masyarakat jangan sampai panik dengan adanya virus Corona (Covid -19), dan ini bisa tangani bersama untuk memutuskan mata rantai penyakit tersebut.

Dan dalam menghadapi wabah (Covid -19), sepatutnya kita wajib menjaga kesehatan, menjaga diri sendiri, jaga keluarga, dan saling jaga persaudaraan dengan sekitar. Waspada, namun jangan panik.

Dari berbagai Sumber
semoga ada hikmah dan pembelajaran buat kita semua.

Masjidil Haram juga Pernah di tutup 40 kali karena 5 Wabah Penyakit.

 

Wabah virus corona yang menyerang beberapa negara di dunia, membuat ibadah haji 2020 terancam ditutup. Ternyata bukan kali ini saja Ka’bah ditutup untuk ibadah umrah maupun haji. Tercatat dalam sejarah ibadah haji pernah ditutup sebanyak 40 kali karena penyakit mematikan dan juga pertikaian zaman dahulu.
Berikut catatan sejarah ibadah haji ditutup karena wabah mematikan, seperti yang diunggah oleh pengelola akun media sosial Instagram @jejakimani, Kamis (5/3/2020).

1. Wabah Tha’un
Wabah ini merupakan penyakit kulit mematikan, serupa dengan penyakit kusta atau lepra. Pada 1814, wabah ini menyebabkan ibadah haji ditutup dan  8.000 orang meninggal dunia. Wabah tersebut disebabkan oleh virus yang menyerang hewan ternak. Orang yang terjangkit wabah ini akan muncul luka busuk pada kulitnya.

2. Wabah Hindi
Wabah ini terjadi pada 1831 silam. Wabah yang dipercaya berasal dari India ini mengakibatkan ibadah haji ditutup dan tiga perempat jemaah meninggal dunia.

3. Wabah Kolera
Wabah Kolera terjadi pada 1846 dan membuat ibadah haji ditutup. Kejadian ini berulang pada 1650, 1865, dan 1883 silam. Wabah ini terus menerus menelan korban jiwa. Bahkan, pada 1892 yang bertepatan dengan musim haji mengakibatkan korban meninggal dunia tergeletak di jalanan.

4. Wabah Tifus
Wabah yang merebak pada 1895 di Arab Saudi ini mengakibatkan ibadah haji juga ditutup. Wabah ini mirip dengan demam tifoid atau disentri. Wabah tifus disinyalir datang dari konvoi yang datang dari Madinah.

5. Wabah Meningitis
Terjadi pada 1987 lalu dan mengakibatkan 10.000 jemaah haji terinfeski meningitis.
Selain karena wabah, ibadah haji juga pernah ditutup karena berbagai persoalan atau peristiwa. Salah satunya terjadi pada 983 silam ada perselisihan Bani Abbas dan Bani ‘Abid. Kejadian tersebut mengakibatkan umat Islam dari Irak dilarang haji selama delapan tahun.