Umar bin Mudzaffar atau yang dikenal dengan Ibnu Al-Wardi, sejarawan
besar, penyair, ahli fikih, merupakan deretan ulama yang meninggal
karena thaun atau wabah.
Menariknya, sebelum meninggal, Ibnu Al-Wardi sempat menulis kitab mengenai wabah
melalui penggambaran yang cukup detil. Jadi, Ibnu al-Wardi menulis
tentang satu penyakit, dan ia meninggal oleh penyakit yang ia tulis
sendiri.
Lalu 22 tahun setelah meninggalnya Ibnu Al-Wardi, hal yang sama
terjadi pada Taj al-Din al-Subki, ia terjangkit wabah setelah menulis
kitab tentang wabah, bertajuk Juz’un min al-Thâ’ûn.
Wabah ini memang tak pandang bulu. Ia menjangkit seseorang dalam
keadaan apa saja. Entah pejabat, rakyat biasa, bahkan ulama bisa saja
terjangkit wabah ini.
Seorang ulama agung, Murtadla al-Zabidi, yang dikenal syârih
al-ihyâ (pensyarah Ihyâ'), malah terjangkit wabah paska melaksanakan
Salat Jumat, dan meninggal dua hari kemudian.
Ibnu Al-Wardi sendiri mendokumentasikan wabah di Damaskus dalam
kitabnya Risâlat al-Nabâ’ an Al-Wabâ’. Menurutnya, wabah yang melanda
Damaskus, bagai mesin pembunuh karena menghilangkan nyawa 1.000 orang
per hari.
Seperti dilansir dari website Laduni.id, disebut dengan redaksi “aqalla al-katsrah”, menyusutkan populasi manusia.
Wabah ketika itu menjadi pandemi yang menyebar dari Palestina
sampai ujung Utara Syria, dan melalui pertengahan Kota Syria, wabah
tersebut terus berjalan sampai ke Turki.
Al-Shafadi, sejarawan yang juga meninggal terjangkit wabah ini
menjelaskan, "Wabah ini sampai mengosongkan tanah Syam dari
penduduknya."
Menurut Ibnu Al-Wardi, kala itu, wabah menjadi mesin pembunuh
menakutkan hingga di mana-mana terdapat barisan manusia tergeletak
memuncratkan darah dari mulut mereka.
“Di antara ketetapan Allah, wabah ini berjalan dari rumah ke
rumah. Jika seorang mengeluarkan darah dari mulut, maka nyawanya sudah
pasti terenggut. Sedang sisanya tinggal menunggu jatah mati, setelah
berlalu dua atau tiga hari.”
Ia bersyair,
Aku berdoa pada Allah
Bagaimana cara menolak Tha’un yang datang seketika
Sebab siapa saja yang sudah merasa menelan darah
Sesungguhnya ia sudah merasa pasrah (ahassa bi al-‘adam)
Demikian tidak terkontrol penyebarannya, akhirnya masyarakat
ramai belajar pengobatan secara mandiri dari buku-buku kedokteran.
Berbagai metode untuk menyembuhkan wabah ini dipelajari.
Mereka memakan dedaunan kering dan makanan asam untuk obat. Di
waktu lain, ramai orang mengkonsumsi cuka serta bawang untuk
sterilisasi.
Ibnu Al-Wardi mengatakan, “Jika kalian sudah melihat banyak
keranda dan para pemanggulnya, niscaya kalian akan menjauh seketika dari
mereka.”
Penyebarannya wabah ini sangat cepat, dan tidak pandang bulu.
Hingga siapapun yang melihat mayat, ia akan ketakutan terjangkit wabah
yang sama. Menurutnya, arus keuangan menumpuk di pemanggul mayat karena
demikian banyak orang meninggal setiap hari.
Selama 15 tahun, Damaskus diserang wabah, sampai orang orang bersimpuh pasrah tak tahu apa yang harus diperbuat.
Ibnu Al-Wardi menggambarkan, sebagian mereka menulis wasiat, ada
pula yang mendadak berdamai dengan musuh lama, sebagian lagi ada yang
berinfak tanpa putus, ada yang memerdekakan budak budaknya, bahkan para
pedagang menambah kadar timbangan. Sebagian mereka merasa hidup hanya
menunggu hitungan hari.
Pemandangan memilukan ini membuat Ibnu al-Wardi geram. Ia geram
karena dimana mana orang berbicara ketakutan, penyakit, kesedihan, dan
keputusasaan. Akhirnya Ibnu al-Wardi menantang Tha’un dalam dua baitnya:
Aku tidak takut padamu, thaun (wabah),
Tidak seperti selainku
Bagiku, hasilnya adalah dua kebaikan
Jika aku mati, aku beristirahat dari musuhku (wabah)
Jika aku hidup, berarti telinga dan mataku sudah sembuh (hilangnya wabah)
Belum genap dua hari, wabah tersebut menjangkiti dirinya. Belum
genap hitungan 48 jam pula, wabah itu sudah merenggut nyawanya. Ibnu
al-Wardi meninggal pada tahun 749 H. Tahun yang sama saat ia tiba tiba
memasukkan pembahasan wabah dalam kitab târikh-nya.
"Pada bulan Rajab, wabah sampai ke tanah Aleppo, Syria. Semoga
Allah menjaga kita dari wabah tersebut. Wabah ini, menurut berita yang
sampai padaku, telah menjangkit selama 15 tahun. Dan aku membuat risalah
kecil untuk mendokumentasikannya, bertajuk al-Nabâ' an al-Wabâ."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar